Penyakit Yang Menyebabkan Stigma Pada Penderitanya

stigma

Penyakit TBC adalah salah satu penyakit yang menyebabkan stigma pada penderitanya, termasuk juga tenaga kesehatan apabila tertular penyakit ini. TB dinamakan juga sebagai penyakit menular ke-2 sesudah malaria, dari 10 besar penyakit menular di NTT. Isu mutlak penyakit TB kala ini terkait kasus MDR-TB (Multi Drug Resistance- Tubercolusis atau TB). MDR-TB ialah sebuah kondisi resistensi seseorang pada pengobatan TBC penting (INH dan Rifampisin).

Seluruh orang bisa tertular MDR-TB, termasuk juga tenaga kesehatan MDR-TB, dinamakan juga sebagai salah satu penyebab penularan penyakit TB kepada tenaga kesehatan. MDR-TB terjadi dikarenakan seseorang penderita TB tak mendapati pengobatan standar tepat rekomendasi WHO dan mekanisme alamiah tubuhnya. Akibat kondisi ini yakni penularan TB konsisten berjalan dan kasus kematian lantaran TB meningkat. Oleh lantaran itu seseorang yg telah dicurigai MDR-TB butuh langsung diidentifikasi, didiagnosa dan memperoleh pengobatan MDR-TB. Pengobatan MDR-TB lebih kompleks dari TB primer, waktunya lebih lama, 18-24 bulan, kategori terapi meliputi obat suntik dan oral.

Kegagalan pengobatan TB tidak sedikit ditentukan oleh hal manusia. Pencegahan MDR-TB di NTT, yg telah dilakukan merupakan dengan penemuan dan pengobatan penderita baru TB BTA positif, peningkatan kapabilitas Sumber Daya Manusia, penyediaan logistik program TB, promosi program TB dan pencatatan-pelaporan.

Penyakit TB bisa disembuhkan, jikalau seorang patuh menjalani terapi. Manajemen penyakit TB meliputi manajemen medis dan manajemen psikososial. Manajemen medis memiliki protap (prosedur tetap) yg jelas. Manajemen psikososial ditujukan terhadap stigma dan isu-isu multi budaya, lebih mengakses dengan kesehatan jiwa dan penanganan kesehatan jiwa.

Stigma Orang yang Menderita Penyakit TB

Diagnosa dan terapi penyakit TB, berdampak terhadap kesehatan jiwa atau psikis dan sosial, berupa stigma. Stigma atau pemberian label terhadap seorang atau identitas menyimpang atau sebagai stereotipe negatif. Stigma ialah sebuah tabiat diskriminasi.

Sakit mental, sakit kusta, cacad fisik, epilepsi, obesitas, HIV-AIDs dan penyakit TB, memberi stigma buruk pada orang yg mengalaminya. Penelitian menunjukkan seseorang dalam grup stigma memiliki harga diri yg lebih rendah dari orang dalam grup non stigma. Stigma telah dikenal sejak era Yesus, seperti ceritera orang kusta dalam Alkitab yg disingkirkan dari penduduk. Oleh lantaran itu, stigma mesti dihilangkan dari penduduk, apapun sakit yg diderita seorang.

Tabiat seorang dipengaruhi oleh lingkungan dan hubungan bersama orang lain. Stigma diberi oleh lingkungan dalam hubungan bersama orang lain. Perilaku stigma terhadap seorang yg menderita sakit, sangat sering berasal dari beberapa orang yg sehari-hari berinteraksi dengannya. Menghilangkan stigma pertama-tama bisa dimulai dari beberapa orang ini. Dengan demikian stigma, ialah stressor yg berikan “double burden” bagi orang sakit.

Stressor lantaran stigma dalam jumlah, intensitas dan diwaktu lama, tidak dengan mekanisme koping yg adekuat (manajemen masalah dan pengaturan emosi), mengakibatkan tabiat menyimpang. Tabiat menyimpang atau tingkah laku tak sehat itu ditunjukkan antara lain dengan mencari pengobatan alternatif, sebuah pengobatan yg belum teruji kasiatnya dan atau menghindari pengobatan medis, yang kasiatnya sudah teruji.

Facebook Comments